Cerpen Kopi Hitam Ayah
kopi
hitam ayah
“kopi hitam ayah mana
dila?”
“Kamu telat lagi
dila.!! Beberapa hari ini kamu telat? Heran ayah sama kamu!!”
“Maaf ayah, ta….”
“Kalau besuk kamu telat
lagi ayahakan potong uang jajan kamu!!”
“Iya yah,” aku langsung
masuk ke dalam rumah, coba deh ayah jadi aku??. Pikirku dalam hati. Kesal
sekali dengan sikap ayah.
“Yeee yang habis di
kasih bonusan..”
“Sudah diam kamu sa! “
“Ada apa ini? Malah
ribut sasa ayo tugas kamu selesaikan dulu, nanti kalau ayahmu tau di potong
uang jajan kamu!!”
“Week!!” Aku
menjulurkan lidahku ke muka sasa, rasanya puas sekali walaupun sasa tak kena
marah ayah tapi dapet semprotan dari ibu.
06.00 wib surau surau
berlomba – lomba mengumandang adzan. Itu tandanya kami dapat panggilan untuk
menjalankan kewajiban kami. Kulihat ayah di teras sudah melirak lirik kedalam,
secepat kilat aku mengambil mukena.
“Ayo berangkat”! ayah
member komando
Alhamdulilah gg telat
lagi. Kami bertiga berjalan menuju surau,karena aku sudah smp jadi aku sudah
tidak mengaji di sore hari tapi aku membaca al quran setelah sholat magrib
bersama.
“Subhanallah..”
Kenapa dila? Tiba –
tiba ayah mengejutkanku
“Itu yah awanya indah
sekali”
“Semua yang ALLAH
ciptakan itu sangat indah dan kita wajib untuk mensukurinya, wajib untuk
memeliharanya, khususnya kamu dila sebagai generasi muda kamu harus dapat
menjaga keseimbngan bumi ini.”
setelah sholat isyak
kami pulang bersama – sama, kali ini hanya sasa yang masih ngoceh menceritakan
teman barunya kepada ibu. Kulihat ayah hanya sekilas melirik dan tag
berkomentar apa – apa, aku hanya diam Karena malas untuk berkomentar.
“Ibu malam ini kita
makan sama apa?” Sambil mengantar kopi untuk ayah, tak sengaja aku melirik ibu
sedang menata meja makan.
“Sayur lodeh sama tahu
bacem dila”
“Nanti aku nyusul bu,
dila mau menyelesaikan pr matematika dulu, kurang 3 butir kok bu”. Bosen ,
kenapa selalu tahu tiap hari? Gerutu sambil pergi ke kamar. Mala ini aku tag
berniat makan malam.
“Dila mana bu?” . ku
dengar suara ayah dari kamarku.
“Mau nyusul nanti
katnya yah”.
Mari kita makan dulu
bu, sasa.!. heran semakin besar kok susah di atur!
Sudah lah pak, mungkin
dila capek, sekarang sudah SMP pasti banyak kegiatan di sekolahnya”.
Ohhh terimakasih ibu,
kau selalu membelaku di depna ayahku.
Laper sekali, tengah
malam aku mencari sesuatu di meja makan. Alhamdulilah masih ada sepiring nasi
dan bacem tahu.ahirnya kumakan juga.
Kriiiiinggg……..kriiingg……..
jam wekerku mulai memanggil – manggil ku. Terpaksa aku membuka mata, dan aku
berjalan terseok – seok mengambil air wudhu. Dan kulihat tinggal aku yang belum
berkumpul di mosola rumah
“Telat lagi kam dila.”
Aku hanya diam
danenggan untuk menatap ayah.
“Sudah yah ayo kita
sholat nanti telat lo”. Ibu mengingtakan ayah.
Alhamdulilah ibu selalu
mengerti situasi dan kondisi.
Aku berangkat sekolah bareng ayah. Jam 06.00 pagi
harus sudah siap. Ayah bekerja di salah satu pabrik swasta. Arah sekolah ku
dengna tempat kerja ayah searah. Jadi ayah putuskan untuk berangkat bersama
–sama. Bagi ayah sih oke berangkat pagi. Karen ayah seorang pemimpin ayah
berangkat pag sebgai contoh. Kalau aku berangkat sepagi ini selalu di kira mau
membantu ngepel sama pak roni, pak roni itu tukang kebun sekolah. Hari ini
adalah penilaian lomba lari jarak jauh, dengan ketentuan waktu putra 20 mrnit
dan putrid 30 menit. Sudah ggkebayang kan capeknya. Aku tergolong yang sedang
maksudnya gg begitu pintar tapi juga tidak tergolong dalam bodoh. Dan hari ini
aku ikut ekstra KIR.
04.00 ku lirik jam
tangan ku. Gg mungkin ada angkot jam segini,kalupun ada pasti jalanya lambat
kenapa tadi aku menolak ajakan nebeng faniyah? Ahhhhhh,,, aku menupuk jidatku
sambil menggerutu, gg mungkin pulang sama ayah. Sial banget sih hari ini!! Aku
outuskan untuk naik ojek.
“Maaf ya dila, ibu lupa hari ini hari selasa, ibu
lupa hari ini kamu ada eskul, ini uang naik ojeknya ibu ganti.” Ibu selalu bisa
menghiburku, ibu yang selalu lembut sama anak – anaknya, ibu yang selalu
mengerti tentang perasan anaknya, tidak seperti ayah, kalau gg marah itu
mungkin dunia ini bisa hancur. Walaupun aku tau ada maksud baik di balik
marahnya ayah, tapi aku tag menyadari itu.
“Malah nglamun to,,ayo
makan trus mandi biar capeknya ilang. “
“Iya bu.”Bener juga
kata ibu setelah mandi badan jadi seger, kemudian aku rebahan di kasur.
Hoaamz, aku mulai
mengantuk aduhhh capek sekali rasanya kaku semua ini badan. Aku tidak hobi
olahraga kalu di suruh milih olahraga atau pelajaran matematika pasti aku milih
matematika. Hehehe
Aku bangun jam 04.30
pas alrm berbunyi. Aduhhhh mati aku. Ku dengar sayup – sayup ku dengar ibu dan
ayah sedang berbincang – bincang. Lalu kuputuskan untuk menguping..
“Habis subuh nanti ayah
mau ngmong sama dila bu? Sudah gede kok gag tau diri, 2 malam gag makan malam,
nanti kalo sakit siapa coba yang repot? Ibu juga kan?”
“Iya coba nanti di
nasehati pelan – pelan yah
“Duduk disini ayah mau
bicara sebentar,” tidak ada wajah marah di muka ayah tapi
Kalau ayah sudah bilang
begitu, itu serasa sudah berada di ruang sidang dan aku sebgai terdakwa, selama
ini aku belum pernah duduk berdua dengan ayah saja, ketika ayah sedang marah.
“2 hari ini kenapa kamu
melewatkan makan mlam?” ayah bertanya dengan tatapan lurus kepadaku.
“Kmren pelajaran
olahrga yah, dila capek trus ketiduran dila juga gg tau baru bangun jam segini.
Maafkan dila yah”
Kamu kan bisa mengatur
weker kamu. Buat apa kamu dulu merengek – rengek minta dibelikan jam weker kalu
gg kamu gunain. Ayah lihat rasah tanggung jawab dan disiplin kamu kurang. Apa
mungkin ayah mengirimu ke si mbahmu di smarang.
“Tidak ayah, dila mau
disini” aku mulai menahan air mata, tidak bisa ku bayangkan bila aku harus jauh
dengan keluarga di sini, dan aku tidak mau tinggal dengan simbah Karena yang ku
dengar dari ayah simbah putrid dan simbah kakung itu sangat dsipin, lebih
disiplin dari ayah.
“Kalau kamu ingi
serumah dengan ayah dan ibumu juga adekmu, jangan anggap sepele kedisplinan dan
tanggung jawab.!!!” Ayah menatap tajam
kearah ku.
“Iya yah dila janji,
besukjika sila melanggar dila siap dengan hukuman ayah.” Dan janji oitu hanya
sekilas keluar dari mulutku, dan aku enggan untuk melakukan, aku terpaksa
bohong sama ayah Karen aku tidak ingin kena murkanya ayah lagi.
Jujur aku mulai bosan
dengan kelakuan ayah, ayah tidak sesayang dulu lagi. Dan hari ini aku menyusun
rencana, aku ingin sekali pulang jam 06.00 sampai rumah. Jam segitu ayah sudah
pulang. Aku bosan harus membuat kopi hitam, akua bosan dengan wajah ayah. Cuma
hal seperti itu aku sampi di marahi samapi mau di kirim ke mbah putri. Kesel sekali
hari ini.
Setelaah pulang sekolah
aku menyetujui acara temenku, nonton pilm sambil rujakan di rumah fani dan
nanti pulangnya di antar fani dan fani setuju nanti fani akan bilang sama ayah
kami punya tugas kelompok mendadak.
Ahirnya rencana
berjalan mulus. Dan ayah sama ibu pasti akan percaya karena ayah dan ibu ku
sangat mengenal keluarga fani, seharusnya itu yang harus di garis bawai ayah
dan ibuku kenal dengna keluarga fani dan keluargafani tau sifat disipin ayah,
itu yang akua lupakan di rencana itu.
Hari ini rencana
berhasil, ayah dan ibu tidak bertanya yang aneh aneh. Ahirnya kami menyusun
rencana untukbolos sekolah. Rencana masih semulus dengan rencana yang pertama. Tapi hari ini kami main
sampi taman kota, kami berjalan – jlan beli kaos hanya aku yang tidak membeli,
karena kalau aku beli akuakanketahuan. Setelah sampai rumah, Fani minta maaf
sma ayah dan ibuku,kemudian setelah fani berpamitan. Drama itu dimulai.
“Bahagia sekali ya yah?”
Ibu minta pendapat ayah,
“Iya buk, jarang jarang
anak ayah se riang ini pulang mengerjakan tugas.” Ayah memuji ku
Aku hanya senyum –
senyum sendiri. Aku tag sadar ternyata ayah dan ibu sedang menyindirku.
“Mengerjakan tugas apa
tadi dila di rumah fani? Bahaasa Indonesia ya? “
“Iya yah pelajaran
membuat drama, makanya kami senang sekali yah dapet tugas keluar membuat drama,
membeli pernak – pernik buat drama.”
“Dan kamu sampai taman
kota,mengelilingi pasar?” ayah mulai mengeluarkan nada tinggi
Aku kaget darimana ayah
dan ibu tau, aku meliriki ibu minta bantuanya. ibu hanyamenggelengkan kepala. Aku
pasrah ayah pasti kan marah dan aku pindah semarng,
Ayah tidk tahu, kenapa
kamu bsa melakukan hal memalukan, membolos di jam pelajaran. Kapan ayah
mengajarimu membolos? Ayah sudah bilang disiplin dan tanggung jawab itu penting!!
Tapi kenapa ayah sampi dibohongi sma kamu?Tadi pihak sekolah telfon ayah, hari ini kamu bolos sekolah. Karena kesempatan
ayah yang pertama telah kamu abaikan,Besuk pagi ayah kaan mengantrkan mu ke
eyang putri ke semarang.ibumu sudah merapikan semua pakainmu ke dalam tas. ayah
malu sama eyang kakung dan eyangputri ayah gagal mendidik kamu.
Aku berlari masukke
dalam kamar, aku hanya bisa menangis. Aku harus bisa menerima kenyatan ayah
akan mengirim ku ke semarang, yang kudengar cerita dari ayah, eyang putrid dan
eyang kakung lebih disiplin dari ayah. Aku tag bisa membayangkan hal itu
terjadi. aku hanya bisa berjanji kepada diriku sendiri aku tak aka pernah
mengulangi keslahan ini.
“Jaga dirimu baik –
baik dila. Ibu tak menyangka kamu mengecawakan ibu, semoga kamu dirumah etang
kamu bisa berubah.” Raut muka ibu terlihatkecewa sekali aku tag berani menatap
matanya aku hanya menggigit bibir menhan air mata ini keluar.
“Mbak dila jangan nakal
di rumah eyang ya, sasa pasti kangen mbak dila” sasa menangis sesenggukan aku
merasa orang paling salah.
Dari rumah sampai
semarang kami hanya diam, ayah fokus sama mobil. Aku memasangkan headset di
telingaku, simple plan – perfect. Lagu favoritku yang selaluaku putar di
handphone ku. Sekilas aku langsung teringat setahun lalau ketika ayah berjanji jika
aku dapet rangking 1 aku akan di belikan handphone, saat itu aku bernyanyi
sepanjang jalan dan ternyata ayah tau lagu kesukaan aku. Air mata ini menetes,
ternyata aku telah membuat ayah dan ibukukecewa. Jika saja kau tidak bolos.ayah
maafkan aku…
Ku lihat eyang kakung
dan eyang putri sudah menungu kami di depan rumah. Mungkin salam ayayahdan ibu
sudah menelponya.
“Capekya nduk?” Eyang
putri memeluku
Aku hanya
mengangguk,aku masih malas untuk berbicara, mataku sembab.
“Ayo taruh tasmu dikamarmu,”
simbah mengantarkanku ke kamar,” ini dulu kamar ayahmu, nanit kalo kamu gg suka
biar di cat ulang ulang sma kakungmu.”
“Pak nitip dila. Ini
surat pindahnya. Maaf aku hanya bisa mngrepotin ibu dan bapak, saya gagal
mendidik dila buk.” Ku lihat mata ayah berkaca -kaca
“Gg papa nang.
Percayakan dengan ibu sama bapak, kami tidak keberatan kami malah senang ada
putu disini jadi ada yang nemenin ke sawah.” Hati hati di jalan, nanti kalau sudah
sampai rumah kami beri kabar. Ibumu suka
kuatiran orangnya” senyum khas kakung menegembang di wajahnya
“Ayah pulang dulu dila
jangan mengecewakan eyangmu,”Aku mencium tangan ayah aku hanya diam, menhan
tangis. Kami mengantar ayah dan menunggu ayah sampai hilang di tikungan.
Ahirnya aku sekarang di sini dengan 2 eyang ku yang super ketat. Kuatkan aku
menghadapi hikuman ayah ku ya allah, aku berdoa dalam hatiku.
“Dila, besuk kamu harus
berangkat jam 6 pagi, Karena sekolah barumu itu masuk jam setengah 7. Nanti
biar dianter sama kakungmu, nah di belakang ada sepeda nanti kamu bisa naik
sepeda untuk pergi dari sekolah. Sekolah barumu itu sekolah sehat jadi sekolah
melarang untuk membawa kendaraan bermotor ke sekolah karena akan menimbulkan
polusi.” Mbah putri memberikan gambaran tentang sekolah baruku aku hanya
mengangguk – aguk.
“ohh iya dila, di
sekolah barumu juga memberikan lahan untuk pertanian, jadi setiap kelas di beri
satu lahan untuk di Tanami sayur- sayuran.”
Tidaaakkk aku tidak tau
cara memegang cangkul, rasanya aku tidak betah di sekolah baru. Ayah ibu dila
mau pulang.

Keren!!!!
BalasHapusterimakasih kak.
Hapus