Cerpen Romantis


EMBUN FAJARINA

Setelah sekian lama aku mencintai seseorang hanya dengan diam. Mengagumi dalam diam. Bersamamu dalam arti kawan. Setelah 5 tahun aku simpan begitu rapi dan cantik. Aku perlahan – lahan pergi dari hidupnya dan 1 tahun setelah kami wisuda akhirya akupergi dengan alasan aku sibuk dengan pekerjaanku, padahal nyatanya aku memang menyibukkan diriku untuk melupakan dia. Dia Abiasya Daniswara yang selalu datang dengan tiba – tiba dan juga akan mengilang begitu saja. Abi aku memanggilnya Abi, dia teman sewaktu maba dan sampai saat ini meskipun saat ini aku berusaha untuk pergi dan tidak terkekang oleh Abi.
Kriing.. kriingg….
“hallo dengan Embun disini”.
“Embun, dipanggil untuk menghadap Pak Adit sekarang”.
“baik mbak Ayuk”.
Aku Embun Fajarina, seorang pengecut dengan perasaan, yang memilih diam daripada harus menyatakan cinta. Aku bekerja di perusahaan advertising  dibagian keuangan. Beberapa hari yang lalu ikut mengajukan pindah di kantor cabang semarang, sudah tau kan alasanya kenapa aku memilih pergi jauh ke semarang? Yah betul aku meghindari bertemu degan Abi.
“Mba Ayuk”. Aku menyapa sekertaris Pak Adit. Pak adit CEO advertising, beliau masih muda yaa 25th lah, ganteng, kalau omong irit lebih ganteng Pak Adit daripada Abi loh kenapa jadi membandikan sih? Dasar aku.
“Masuk aja embun gag papa, tadi pak adit telfon katanya kamu disuruh langsung masuk aja”.
“Oke Mba Ayu, terimakasih ya”. Mba Ayu, nama panjangnya Ayu Diah Pramesti, dari body dan otak cocok untuk sekretaris, menguasi 5 bahasa entahlah bahasa apa saja, dari gosip terhot kantor apalagi cowok – cowok selalu membanggakan Mba Ayu. Selalu bikin iri ciwik – ciwik ketika dampingin Pak Bos meting keluar kantor. Aku hanya meringis mengingat gossip terpanas minggu ini.
Tok..tok…
“Masuk”. Aku langsung mendorong pintu ketika yang punya ruang mempersilahkan masuk.
“Selamat pagi Pak Adit”. Aku hanya tersenyum.
“Duduk Mbun”. Aku langsung menuju sofa untuk duduk.
“Aku pengen tau alasan kenapa kamu pengen pindah ke kantor cabang?”
“Saya pengen menjadi karyawan terbaik untuk perusahaan Pak”.
“Disini kamu juga bisa menunjukkan prestasimu, aku lihat di daftar kayawan HRD kamupaling aktif dan rajin, hasil pekerjaan kamu juga bagus, apa ada masalah dengan karyawan yang lain?”
“Tidak ada pak, ini memang murni keinginan Saya”. Ada masalah dengan hatiku Pak, aku hanya bisa ngomong di dalam hati.
“Baik kalau begitu, Senin kamu bisa mulai kerja di kantor cabang Semarang, saya sudah lihat laporan bulanan kamu sudah beres jadi aku kasih waktu mulai hari ini untuk cek lokasi dan juga persiapan kamu untuk tinggal disana juga, karena kantor tidak menyediakan mess untuk karyawan”.
“Trimaksih pak”. Pak adit menjabat tanganku kulihat dia tersenyum manis, aku seperti tersihir dan ikut tersenyum. Aku berulang kali mengingat – ingat wajah Pak Adit, seperti tidak asing tapi hasilnya nihil.
Aku hanya tersenyum melewati meja Mba Ayu, dan segera berlalu. Dan sekarang hanya orang – orang yang histeris setelah mendengar kabar dariku..
Tingg….
From: Abi
Katanya kamu pindah semarang? Mulai kapan?
Hemmm, panjang umur ini anak, baru di pikirin udah ngechat aja
To : abi
Iya, pengen suasana baru aja, mulai hari ini lah.
From : abi
Kamu utang penjelasan kenapa kahir – akhir ini kamu kabur – kaburan mulu.
to: abi
Iya – iya aku jelasin.
From : abi
aku tunggu di dicafetaria sekarang.
Aku langsung keluar kamar mengambil kunci kamar. Hari ini aku harus jujur pada Abi.
 “Hay… udah lama? Aku langsung menghampiri Abi.
“Baru nyampai juga kok, sudah aku pesankan moccacino untukmu.
“Ooo makasih”. Tidak sengaja aku melihat jari manisnya, lama aku menatapnya, inilah perjuanganku berakhir. Tiba – tiba Abi menarik tangannya ke bawah.
“Kenapa mendadak pindah ke semarang?
“Aku mau move on dari kamu Bi”. Aku langsung ke intinya aku sudah capek sekali.“Bi kamu tunangan sama Sinta?”. Ya pacar Abi yang terahir adalah sinta mahasiswa fakultas kedokteran juga. Bagiku sinta itu sempurna, fisik dan otaknya.
“Enggg iya. Kita masih bisa menghabiskan sabtu bersma – sama, nanti aku kabarin jadwal praktikku”. Abi memperhatikankan Ku.
“Bi 5 tahun aku sudah nemenin kamu, sekarang saatnya sinta untuk nemenin kamu. Mungkin bagimu aku hanya sahabat, tapi bagiku kita lebih bi, jadi tolong banget lepaskan aku, tolong jangan ganggu aku lagi di hari sabtu, ijinkan aku mencari teman hari sabtu. Dari dulu kamu beralasan nglindungin aku. Tapi itu malah numbuhin harapan yang lebih untuk ku bi, sekali lagi tolong lepasin aku bi”. Kali ini aku tidak berani untuk menatap mata abi, karena sekalinya kau menatap air mataku akan jatuh.
“Maafin aku Mbun, aku takut jika kita lebih dari sahabat aku akan kehilangan kamu”.
“Aku tidak mau dianggap menjadi pengganggu diantara kalian.
“Bi.. aku pulang dulu ya aku harus prepair”. Aku langsung ke kasir dan pergi ninggalin Abi di café begitu saja. Sampai mobil aku langsung memblock semua akun medos Abi. kali ini aku benar – benar pergi. Aku tidak akan menangis untuk kesekian kalinya. Aku hanyalah persinggahan dia dikala dia kesepian, aku hanyalah penyemangat baru ketika dia terpuruk dan aku akan kembali ditinggalkan ketika dia telah temukan cinta yang baru lagi.
Niatku untuk pindah ke semarang sudah bulat, aku harus melupakan Abi, aku harus memulai sesuatu yang baru tanpa Abi. aku harus memulai dengan orang – orang yang baru bahkan aku tidak punya kenalan di semarang. Minggu pagi aku berangkat ke semarang dengan mobil. Aku diantar oleh mama dan ayah. Mereka berdua tinggal di semarang sampai Minggu pagi, dan siangnya meraka pulang ke malang lagi. Welcome semarang batinku aku harus bisa sendiri aku menyemangati diriku sendiri.
Senin pagi aku sengaja berangkat pukul 07.15 pagi, karena memang aku belum hafal rutenya jadi berangkat pagi takut telat. Tadi sempet chat sama Pak Adit di sana aku harus menemui Ujang, bapak – bapak OB yang akan menunjukkan ruangkanku. Akhirnya 15 menit aku sampai di kantor, ternyata semarang tidak semacet Jakarta. Hhheee… loh padahal aku di malang ya bukan Jakarta. Aku memarkirkan mobilku disebelah mobil pajero, wuhhh keren karyawan cabang ke kantor bawa pajero batinku.
Di halaman aku melihat bapak – bapak sedang menyapu halaman, pasti Pak Ujang, aku segera mendekatinya. “Selamat pagi…….”. Aku menyapanya dengan ramah, dan benar saja ada nama ujang suheri di name tag bajunya.
“Nggeh..  Mba Embun ya?”. Mari saya antar masuk sudah di tunggu Mas Adit di dalam”. Beliau bicara campur antara bahasa jawa dan Indonesia, aku lupa ini bukan Jakarta ini semarang kenapa aku gg bilang jawa ya tadi? Aku hanya meringis di belkang pak ujang. Di dalam  aku hanya melihat ruang tamu kemudian di sekat disana tidak ada kubikel yang memisahkan per bagian seperti di Malang, disini lebih santai dan suasa akrab sudah kucium, di tembok sebelah kanan ada kata “Kami Adalah Keluarga”.
“Mbak Embun, Mas Adit di dalam ya, ruangan Mbak Embun sebelah sini ya”.
“Siip Pak”. Aku mengacungkan 2 jempol kea rah pak ujang.
Tok…tokkk…
“Masukk”. Aku langsung mendorong pintu yang bertuliskan “CEO”, aku sempet geli ketika melihat sekilas tadi.
“Selamat datang di Semarang mbun”. Aku hanya tersenyum ramah. “Maaf ya, karena disini yang kami butuhkan kasir bukan accounting, jadi kamu dibagian kasir ya?”.
“Oke Pak”. Yahh kalau masih nyangkut angka aku masih oke sih, asla jangan bagian pemasaran aja.
“Yuk aku kenalin sama yang lain”. Aku hanya mengangguk dan mengekor di belakang Pak Adit. Dalam sesi perkenalan aku lihat  ada 10 karyawan dan hanya ada 3 cewek salah satunya aku dan, 1 bagian reseptionis Fia namanya, dan juga 1 bagian accounting namanya Cindy.
“Hallo, saya Embun mohon bimbingan dan kerjasamanya”. Semuanya terlihat ramah dan cindy wanita itu seperti kurang suka sama aku, ahh mungkin aku aja yang baperan aku berusaha positif thingking. Aku langsung masuk ke ruangan ku, ruangan transparan menurutku, bagian depan terdapat kaca putih dengan ada loketnya bertuliskan KASIR. 1 buah computer keluaran terbaru, AC, filling cabinet beberapa kertas, dan yang paling menggelitik 1 note di papan pesan “Korupsi Hanya Akan Menyusahkan Masa Depan”, nyentrik juga nih ruangan.
Aku mendengar pintu didorong dan aku meihat mba cindy membawa 1 flasdis dan beberpa file. “Embun, tolong copykan laporan kasir bulan terakhir , di file D kemudian keuangan.
“Baik Mbak”. Aku langsung menyalakan PC,dan waooow… aku langsung terkejut.
“Ngak usah GR semua PC walpapernya tapang si BOS semua”. Tapi aku melihat muka malu di wajah Mbak Cindy. Aku hanya mengangguk. setelah selesai copy aku langsung menyerahkan kembali flasdish ke Mbak Cindy.
Deertt… derrttt..
From : pak bos
Aku ikut kamu pulang, aku mau memastikan karyawanku berada di tempat nayaman.
To : pak bos
Okelah pak. Aku mendengus kesel, padahal pengenye mau muter – muter kota dulu.
From : pak bos
Ayo pulang sudah jam 5. Ha? Aku langsung melihat jam di layar hapeku. Duhh segitu krasanya ya aku disini sampai aku lupa waktu. Satu persatu teman – teman pamit. Aku langsung membereskan mejaku dan keluar ruangan.
“Pintunya di kunci Mbun”. Aku langsung mengunci pintu dan menyimpan ditas.
“Embun.. kita pulang pakai mobil kamu aja, mobil saya biar nginep di kantor”. Aku langsun menyerahkan kunci mobil ke Pak Adit. Dan ternyata pajero milik Pak Bos. hhii
“Maaf ya pak mobilnya jelek, nga seperti punya Pak Adit”. Aku mengawali percakapan di dalam mobil. Rasanya awkkrd kalau diem semuanya.
“Iya nih besuk beli yang bagus dong”. Aku langsung melotot. “Kalau lagi diluar kantor panggil Adit aja, aku masih muda seumuran abang kamu kok”.
“Pak.. eh Adit kamu kenal sama Bang Ado?”.
“Aku temenya abang kamu kalik Mbun, jaman kuliah dulu aku sering kerumah kamu sampai nginep malahan”.
“Astaga kamu Bang Rendra? Dan nama panjang kamu Aditya Rahendra?. Astaga kenapa berubah Bang wajahnya?”. Duhh aku benar – benar merutuki  kebodohanku, pantes ya wajahnya familiar banget. “setelah kamu bekerja dengan aku hampir 1 tahun dan kamu baru inget? Segitu ya pesona Abi sampai kamu tidak bisa melihat cowok ganteng lainya?”.
“Yang pertama aku bener – bener lupa, terakhir ketemu waktu aku semester awal jadi aku sudah lupa, yang kedua aku Cuma sahabatan sama Abi gag lebih dari itu Bang”. astaga sebegitu hebatnya nama abi hingga membuat aku badmood banget. Bang Adit pasti tau kalau aku mencintai Abi, Bang Ado tuh ember banget kalau rumpi sama sahabatnya.
“Sori, aku sengaja nyuruh ado buat gag ngomong sama kamu kalau aku sahabat abang kamu, aku takut kamu jadi canggung sama aku, lagian aku menerima kamu kerja di kantorku Karena lihat IPK kamu bagus kok”.
“Makasih”. Aku melihat kelua jendela mpbil ternyata sudah sampai gerbang rumah, aku langsun turun dan membuka gerbang dan juga buka garasi.” Parkir situ aja bang, nggak usah dimasukin garasi”. Aku membuka kunci pintu rumah dan mempersilahkan Bang Adit masuk.
“Aku ambilkan minum dibelakang bentar”. Aku langsung masuk dan mengambil beberpa cemilan bikin teh anget. Akhirnya aku memutuskan bikin teh anget karena sudah sore.
“Ini teh angetnya Bang, diminum ya”. Aku duduk di bangku depanya.
“Aku masih inget pertama ketemu kamu, kamu bawa nampan teh anget sama cemilan, sayangnya kamu cemberut waktu itu”. Mendadak aku ketawa, aku juga masih inget waktu itu dikerjain bang ado buat ambilin minum di kulkas aku sengaja bikin teh panas Bang Ado langsung marah – marah.
“Mbun.. aku pengen kenal kamu lebih jauh”.
“Maksudnya?”. Aku mendadank jadi orang bego, yang nggak tau arah pembicaraaan Bang Adit.
“Bukalah hatimu untukku, aku tau kamu sayang banget sama Abi, sori aku sering kepo ig kamu, dan juga Ado pernah crita ke aku kalau kamu nungguin Abi”.
“Abi udah tunangan Bang, aku ngag mungkin mengharapkan dia lagi walaupun hanya jadi sahabat aku”.
“Dan kamu memilih untuk pindang ke kantor cabang untuk nglupain Abi?”. aku hanya mengangguk, aku nggak berani menatap mata Bang Adit, aku takut air mataku langsung tumpah .
“Embun”. Loh dia udah pindah duduk disebelahku. Menyandarkan kepala ku untuk bersandar di bahunya. Duhh nyamanya. Ehhh aku berusaha biasa aja tapi kok nyaman banget ya. “Cara melupakan seseorang itu tidak harus pergi jauh mbun, tapi membuka hatimu untuk seseorang yang baru”. Kali ini aku setuju denganya.
“Iya Bang, aku coba tapi aku butuh waktu Bang”.
“Iya Mbun kita jalanin aja”. Kali ini aku akan mencoba  membuka hatiku dengan yang lain. Aku akan menikmati setiap perjalanan rasa ini. Semoga Bang Adit benar – benar tulus bukan karena Bang Ado.

END














Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer