Jingga


JINGGA


Penumpukan sampah plastik, membuat bumi ini panas.entahlah dipikiran maunisa yang pasti simple dan mudah. Gunungan sampah terjadi dimana – mana. Hal ini menjadikan perdebatan dimana – dimana. Aku Maheswara Anjani, Maba jurusan teknik elektro. Aku mamandangi jingga, robot mungil karya terbaikku. Aku member nama jingga karena jingga selesai project saat jingga hadir. Menurutku inilah jingga terbaik yang pernah aku lihat setelah sampah menggnung dimana – dimana.
Jingga adalah robot pengeolah sampah plastik menjadi pot bunga, aku berharap jingga bisa bermanfaat tidak hanya saatini juga untuk saaat mendatang.
Jinggga akan tidur ketika gelap, jingga aku program mencharger ulang baterai saat dia tidur. Jadi jingga tidak memumbutuhkan aliran listrik ataupun baterai, jingga juga aku program untuk peka terhadap makhluk hidup lainya.
Bulan ini aku bisa menanam banyak bunga ataupun pohon disekitar rumah. Aturan pemerintah membagai sampah plastik ditiap rumah untuk di daur ulang. Aturan pemerintah juga mewajibkan satu rumah untuk membuat robotica. Dengan aturan ini sebuah perusahaan makanan siap saji  beralih menjadi perusahaan robotica. Penjualan kendaraaan bermotor dikurangi bahkan ditahun kedua dengan aturan baru tidak boleh ada penjualan kendaraan bermotor, hal ini karena alas an pemerintah untuk menguragi bahaya polusi.
3 tahun kemudian berkat usaha bersama sampah plastik telah habis, matahari bersinar terang, udara segar kembali. Tanah kembali subur, hewan ternak kembali sehat. Semua kembali aman
Perusahaan robot – robot  tetap memproduksi robot – robot baru, dengan berbagai bidang keahlian. Jadi mausia benar – benar dimanjakan dengan robot – robot baru
Kami hanya mempunyai 1 robot yaitu jingga. Aktifitas jingga sekarang hanya jalan – jalan didalam rumah aku idak pernah memperbolehkan jingga keluar rumah, aku hanya mengijinkan jingga keluar rumah smapai pekarangan rumah
Mungkin hanya aku yang ke kampus tidak menggunakan robot, aku memang sengaja tidak mengajak jingga ke kampus. Tugas jingga hanya 1 yaitu mengubah sampah plastic menajdi pot bunga.
“Selamat pagi nona, yang miskin tidak punya robot”. Aku hanya balas dengan senyum.
“Anjani kapan – kapan kamu harus membawa jingga untuk ke kampus” akhirnya si Nana sahabat baikku angkat bicara.
“Iya saat waktu yang tepat aku akan memperkenalkan jingga ke smua orang. Puas kamu Na”. si Nana hanya nyengir.
Saat ini mungkin hari tersialku, dapat dosen baru yang begitu menjengkelkan.
“Selamat pagi, saya harap robot kesayangan kalian hari ini masuk kampus semua, karena hari ini Bapak akan melihat seberapa hebatnya robot yang kalian miliki”.
“Bagaimana kalau yang tidak bawa robot Pak?”.
“Silahkan anda mmanggilnya kesini atau kalau tidak bisa membawa kesini hari ini silahkan untuk keluar, dan jangan pernah mengikuti mata pelajaran saya”.
“Maaf Pak bagi saya robot bukanlah barang pameran, mereka juga perasaan”. Diam – diam aku mulai emosi, karena bagiku jingga bukanlah karya untuk pameran. Ketika tidak ada jawaban aku segera keluar ruangan. Ku dengar satu kelas menertawakanku bahkan ada mengata- ngataiku, aku hanya menghelai nafas dengan jengkel. Tenang..Anajani.. tenang. Aku berkata kepada diriku sendiri.
 “Jingga apakah kamu mau ikut aku ke kampus?” aku bertanya dengan sangat hati – hati. Kali ini jingga hanya tersenyum.
 “ Okelah jingga minggu depan, kamu boleh ikut kita buktikan kalau aku punya kamu jingga si hebat”. Akhirnya aku menyerah untuk membawanya. Jingga tersenyum bahagia, kemudian jingga memelukku.
Ting…ting… kulihat 1 pesan dari nana
From : Nana
Mending besuk kamu bawa jingga ke pak dosen, Pak Dosen hanya memberikan kritik dan saran untuk mnegendalikan robot.
To : Nana
Iya deh…
Pagi ini aku langsung mengajak jingga ke ruang Pak Bima, awal pertemuan kemaren yang kurang menyenangkan sih, semoga benar kata nana beliau memberikan cara jitu untuk melunakan robot.
Tokk..tokkk…
“Masuk…” aku langsung masuk diikuti jingga di belakang
“Selamat pagi Pak, maaf mengganggu, saya hanya ingin memperkenalkan jingga”
“Jingga?” Dosen Bima sambil mengerutkan dahinya, terlihat kebingungan.
“ini pak, robot saya namanya jingga”. Aku sambil nyengir.
“ohh oke.
“Halo jingga”. Kulihat jingga mengulurkan tangan kepada Dosen Bima dan tersenyum. Hal ini jarang banget dia lakukan dengan orang yang baru pertama kali ketemu. Jingga robot yang mirip dengan manusia, dia mempunyai tangan kaki wajah oval dan juga rambut pakai wik, walaupun perutnya tetap kotak karena bahan dasar jinggan adalah besi. Tinggi badan jingga juga hanya 1 meter jadi aku sebut robot mugil. Hehehe…
“Anjani, kamu hebat bisa menciptakan jingga dengan sempurna”.
“Terimakasih pak”. Aku memberikan senyuman yang tulus kepada Dosen Bima.
 “Anjani aku hanya ingin berdiskusi berdua saja denganmu, silahkan antar jingga masuk, aku tunggu di mobil saja”. Setelah dari ruang Dosen Bima. Dosen Bima mengatarkan kami pulang
“Oke pak”. Aku langsung masuk menggiring jingga ke dalam rumah, aku hanya bilang Mama jingga sudah pulang dan aku ada diskusi dengan dosen robotica. Memang kenyataanya kami mau berdiskusi tapi hanya berdua saja. Hehehhe
Aku memilih duduk di pojok café dengan view langsung menghadap ke sawah. Nah jangan heran karena sekarang jaman robotica maka waiters juga robot, hanya saja penagantar makanannya tetap manusia ya. Hehehhe…. Aku sengaja memilih ke café ini karena ini memang café ternyaman di abad ini.
“Anjani, aku mau nanya latar belakang kamu membuat jingga itu apa? Sepertinya kamu begitu menyanyanginya seperti adik kamu sendiri? Apakah betul Anjani?’
“Betul Pak. Awalnya karena penumpukan sampah beberapa tahun lalu aku berinisiatif untuk membuat robot yang bisa bermanfaat, nah si jingga dia bisa mendaur ulang sampah plastic jadi pot bunga”.
“Apakah hanya itu?”
“Emmm.. sebenarnya saya kasih program perasaan, tapi dengan level rendah kok”.
“Nah, dari beberapa kasus perasaan itu bisa membawa petaka, apalagi aku lihat jingga robot yang cukup aktif dan pintar. Besuk aku ke rumah kamu kita pasang jingga GPS dan pita suara”.
“Tapi Pak…..”.
“Tidak usah takut itu akan memudahkan kamu untuk mengontrol jingga”.
Sampai rumah aku masih terbayang percakapan dengan Dosen Bima. Banyak sekali pertanyaan – pertanyaan yang pengen aku sampaikan tapi mendadak lidahku kelu bila berdekatan dengan Dosen Bima.
Oke Anjanai tarik nafaspanjang… hembuskan.. Aku ngomong pada diriku sendiri, aku mencoba menutup mataku berharap segera tidur kemudian pagi segera menyambutku.
Tokk…tokk…
Aku segera berlari membukakan pintu. Dan benar yang datang Dosen Bima.
“Masuk Pak, jingga sudah siap”.
“Jingga aku akan memberikan kamu pita suara, ini supaya kamu bisa bicara kamu bisa berkomunikasi dengan manusia dan juga bisa berkomunikasi dengan robot lain”. Sambil memasang pita suara, kemudian dosen Bima juga memasang GPS di punggung jingga. Kuamati jingga sekali lagi,jingga tersenyum dan mengedip ngedipkan matanya. Aku hanya diam dengan berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk.
“Bima…” suara jinga mengagetkan lamunanku, wow.. hanya sekali pasang langsung bisa aktif ya.
“Hay jingga, nah sekarang coba kamu bicara lagi”.
“Anjani…”. Tiba- tiba jingga membalikan badan kearahku. Aku sempat terharu ternyata jingga mengenaliku.
“Hay jinggga”. Aku benar- benar takjub dengan Bima
“Bim thankz ya, kamu hebat aku spechles banget lo”.
“Hebat dong karena aku dosen kamu, hehehe”.
“Anjani, aku ikut ke kampus ya”. Ini sudah hari seminggu setelah pemasangan pita suara dan GPS jigga merengek untuk ikut ke kampus.
“Hemmm.. oke jingga, tapi kamu janji ya meunggu ku di luar kelas”.
“Oke anjani”. Jingga berlalu sambil nyanyian – nyanyian kecil. Inilah hobi jingga setelah bisa bicara.
Selesai kelas aku kaget, karena jingga tidak ada ditempat duduk semula.aku buru – buru membuka hape yang tersambung dengan GPS. Aku langsung kaget ketika GPS memperlihatkan jingga sudah dirumah. Aku lansung buru – buru pulang, tak hiraukan panggilan nina.
“jingga… “. Aku langsung membekap mulutku dengan satu tanganku, ternyata jingga pulang dengan Dosen Bima.
“Anjani aku suka dengan Dosen Bima”. Aku benar – benar blank gag tau maksud dari jingga.
“Jingga, kamu milik Anjani, kamu tidak boleh ikut dengan saya”.
 “Jingga.. . aku mencoba ngomong dari hati ke hati pada jingga.
“Anjani kamu jangan sekali – kali memisahkan aku dengan Bima”.
“Tidak jingga, aku tidak menghalangimu untuk bertemu dengan Pak Bima, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku”. Entah perasaan macam apa ini, aku tidak bisa mendiskripsikannya, aku tidak tau jalan pikiran jingga, kenapa kok bisa memilih Dosen Bima.
“Kamu tidak pernah ngajak aku keluar rumah anjani”. Hah? Aku langsung kaget dengan jawaban jingga.
“Oke mulai hari ini aku akan membebaskan mu untuk keluar rumah”. Aku tetap berusaha tenang dan ngomong pelan - pelan.
“Jingga,kamu tidak boleh seperti itu, yang punya dan yang buat kamu itu anjani, jadi kamu harus nurut sama Anjani”.
“Tidak… kalian tidak pernah mengerti perasaanku”. Jingga mulai dengan nada tingginya.
Aku hanya diam, emang perasaan robot itu bagaimana ya? Duhh… bener program perasaan itu bisa bikin boomerang. Aku harus dengan bagaimana untuk bujuk jingga. Tolong dong, aku melirik dosen bima berharap dia ngerti maksud aku.
“Bima, aku gak mau sama Anjani, Anjani itu tidak pernah mengenalkanku dengan dunia luar” jingga mulai menangis
“Jingga, memang tugas kamu kan dirumah, kamu diciptakan untuk dirumah bukan untuk robot untuk kirim surat misalnya”. Dosen Bima dengan sabar membujuk jingga.
 “Pak Bima, tolong lepaskan pita suaranya lagi”. Aku memohon kepada Dosen Bima
Jjangan coba- coba ya Anjani”. Jingga berteriak keras sambil mendorongku hingga aku terjatuh. Aku kaget sekali baru pertama kali ini jingga kasar. Padahal aku selalu berlaku lembut kepadanya.
“Bima.. jangan coba- coba…” jingga berlari sambil menangis dan merusak semua perabotan disebelahnya.
“Kalau kamu tidak bisa di atur aku bahkan tidak hanya melepas pita suaramu saja”. Kulihat Dosen Bima benar – benar marah.
“Anjani dimana letak alat – alat robotmu”.
“Disana..”. aku menunjuk sekotak ala –alat dipojok ruangan. Memang setelah seminggu lalu Dosen Bima memasang alat pita suara kotak alat belum aku pindah ke gudang.
“Jingga..” aku berteriak histeris ketika jingga mengambil vas bunga kayu jati tergeletak dilantai. Aku berlari dan memencet tombol off. Seketika jingga mati. Aku menangis ternyata karyaku akan melukai orang lain, ternyata aku gagal membuat robot yang bermanfaat untuk orang lain.
“Sudahlah anjani. Mari kita perbaiki kembali jinggan.” Dosen Bima datang memelukku.
 “Tidak Pak, aku tidak akan menghidupkan jingga lagi, ini sudah cukup Pak, aku piker jingga adalah karya terbaikku, ternyata jingga adalah kegagalanku”. Aku masih sesenggukan.









Komentar

Postingan Populer